It's not a shame to be a Jomblo, Be Proud… Be a JOSH !!!

Apakah Saya PSIKOPAT? [terjebak angan cinta pertama]

Cinta pertama boleh jadi datang saat kita berusia masih muda.
Duduk dibangku SMA, tertarik dengan seorang gadis yang masih sangat belia karena sudah sekian lama bergaul dikelas yang sama.

Ibaratnya, kesan pertama begitu biasa, selanjutnya kok tergoda.
Inilah yang disebut cinta monyet [kenapa kok monyet dibawa-bawa yach???
Kalo cinta buaya atau cinta Elang atau cinta sapi yang kerenan dikit???-kok protes sieh MasBro]

Cinta yang berawal dari iseng, naksir, seneng karena setiap hari ketemu dikelas. atau malah sebaliknya, cinta baru saja diraskan setelah hidup mengembara tanpa cinta selama 40 tahun. Tidak ada patokan ukuran yang jelas kapan cinta yang tepat itu akan datang.
Namun cinta itu pasti akan datang, meski kita tidak tau kapan.

Bahkan sering kali adalah cinta yang paling susah untuk dilupakan,
seorang ibu berusia 65 tahun pernah bertutur :

“Selama tiga bulan terakhir saya benar-benar merasa tersiksa karena saya tidak bisa melepaskan ingatan tentang seseorang. Begitu kangennya ingin jumpa dengan orang itu, sering tanpa saya sadari air mata saya menetes.

“Siapakah orang itu? ” Bekas pacar saya ketika masih sekolah di SMA.

“Cinta petamakah?” Ya, tiga bulan lalu saya bertemu dia di acara reuni eks siswa angkatan 1955-1957. Terus terang begitu saya ketemu dia hati saya tiba-tiba berdebar dan tidak berani menatap mukanya.

Rupanya dia juga memperhatikan saya, mengajak saya bersalaman. Kami bertukar alamat dan no hp, dan tanpa disangka beberapa hari setelah reuni dia menghubungi saya melalui telepon, saling bertukar cerita tentang segala hal yang dia alamai selama hampir 50 tahun tidak bertemu.

Saya heran sendiri, kenapa bisa begini?
Suami saya orang baik, keluarga kami hidup cukup, punya dua anak, anak-anaka menikah semua dan memberi tiga cucu.

Apakah saya orang yang kurang bersyukur atau “psikopat”?

Pada awalnya saya berbahagia dan menunggu-nunggu dering telepon dari dia, tetapi lama-lama saya kasihan melihat suami saya, dia suami yang baik. Kenapa saya abaikan suami saya hanya untuk sekedar menjalin hubunga tanpa tujuan jelas dengan eks pacar di SMA, padahal saya sudah setua ini, punya tiga cucu, hidup damai dalam keluarga, dan eks pacar juga sudah kakek-kakek, punya dua cucu pula.

Akhirnya saya mengambil keputusan untuk menyudahi hubungan ini dengan cara tegas.

Namun apa jadinya?

Ternyata saya tidak menyangka saya kelimpungan sendiri dan murung hampir sepanjang hari sehingga timbul pertannyaan dalam diri,
“APAKAH SAYA PSIKOPAT ?”


**Demikian seorang ibu 65 thn sebut saja K, dengan tiga cucu.

Agaknya ibu ini sedang didera cinta pertama yang sudah lama dia timbun dalam-dalam. Namun kini cinta pertama itu hadir kembali meski usianya sudah tidak muda lagi.

Cinta monyet sering diartikan sekadar suatu pengalaman penghayatan perasaan kecil yang dapat berlalu dengan mudah saat pernikahan sudah digelar. Namun ternyata hal itu bukanlah mudah untuk dilupakan. Sosok si dia yang pernah bertengger di hati nun bertahun-tahun lamanya, kini hadir lagi dan justru semakin susah untuk dilupakan.

Kenapa hal ini bisa terjadi ???
Karena cinta jenis ini lebih dikendalikan oleh “fantasi”. Seolah dia masih ingin membayangkan apa jadinya bila saat ini dia bersamanya.

Apa jadinya bila suaminya sekarang adalah dirinya, sosok yang dia cintai saat SMA dulu. Sosok pendamping yang saat ini ada, ternyata tidak cukup mampu untuk mengusir kegundahan hati yang melanda. Baginya, hubungan suami istri bersama suaminya hanyalah aktivitas rutin saja, sedangkan bayangan untuk membangkitkan kembali cinta pertama seolah menjadi sebuah angan indah yang menjanjikan.

Cinta romantis yang berangkat dari cinta pertama memang mengesankan, namun bobot fantasi atau imajinasi sangat besar sehingga sulit ditemukan dalam kenyataan.

Cengkerama ingatan fantasi dan imajinasi pada masa remajalah yang membuat seolah “FIRST LOVE” tidak pernah mati.
Umur seolah tidak berperan, sudah jadi nenek pun mengalaminya.

Apakah diri kita pernah terjebak dalam kondisi tersebut, atau malah saat ini “masih” dan belum bisa berlalu dan terus bergumul dgn sejuta fantasi dan angan-angan kosong. Sehingga sosok pasangan hidup disamping kita hanyalah pelengkap dan sebagai rutinitas harian.

***Bagi yang telah melaluinya, Barrakallah,…
Mari bersama2 menjaga hati kita,…

Moga Bermanfaat…………..

Salam hormat
MasBro Kpala PantiJomblo

Share for Pages
PANTI JOMBLO sebelum HALAL “MasBro” (Hikmah Kesendirian tanpa Pacaran)

One response

  1. Jazakallahu khoiro artikelnya…

    mgkin itu adalah puber kedua sebelum sang ibu mengalami menopouse.
    Memang.. itu adalah fase yang berat bg seorang wanita (kata guru biologi saya dulu)
    hew…

    over all… i like it

    16 Juli 2011 pukul 2:25 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s